Kepergian Sahabat
Kepergian Seorang Sahabat
Hi everybody, namaku Ferlam, pasti
salah satu dari kalian mengenalku. Aku disini tidak sendirian, ada temanku yang
selalu menjaga persahabatan yang sudah 3 tahun lebih. Disini aku akan berbagi
atau sharing ceritaku pada kalian.
Berikut ceritanya.
**
Pagi ini sangat sejuk sekali,
ditemani kabut yang masih menyelimuti lumayan tebal, tanaman yang masih basah
akibat endapan embun pagi, dan terpancarnya sinar emas dari sang surya Matahari
yang menyambut di pagi hari.
Sekarang, aku sedang berada di
sekolah lumayan masih pagi atau aku datangnya masih terlalu pagi. Lapangan basket
terlihat basah, menandakan semalam hujan turun cukup lebat diiringi angin
kencang. Pepohonan juga menandakan akan tumbuh subur sesudah hujan turun, ada satu yang menjadi perhatianku, yaitu
salah satu pohon di lapangan basket atau sekolah tumbang, untung aja pohon itu
tidak terlalu besar.
Jam menunjukkan pukul 06.30 pagi,
sekolah sudah mulai ramai banyak anak-anak gaul. Aku juga tidak terlalu banyak
bertingkah di sekolah pagi-pagi, kecuali siang baru pecicilan.
Oh iya, aku lupa melaksanakan
kewajibanku untuk membersihkan kelas atau piket.
Tapi aku malas banget kalo udah bersih-bersih kelas pagi-pagi, biasanya
kebagian piketku itu ketika sudah pulang sekolah. Daripada di kelas sendirian
kayak jones, mending ke kantin untuk sarapan pagi, karena aku jarang sekali
sarapan pagi dirumah.
Aku menuruni tangga, dan melewati
lorong sekolah dengan damai hingga sampai di kantin.
“Eceu, gue laper ce, pengen nasgor”
Biasalah aku mah teriak-teriak di kantin.
“Sabar cabe-cabean.”
Penjual nasi goreng ini namanya Een
dipanggil Eceu, tapi anak-anak disini manggilnya Eceu Bohay, maklum ‘itunya’
suka maksud, apa hayo? Mulutnya lah, pada ngeres aja ya hehehe..
“Eceu, ngutang yak. Gak bawa duit
nih.”
“Kebiasaan lo ngutang mulu, bayar
ntar istirahat.”
“Selow ae, berapa sih berapa?”
ledekku.
Aku menikmati hidangan nasi goreng
selagi masih hangat dengan suasana hawanya sangat sejuk, seperti di daerah
kutub utara. Selagi aku sarapan, biasalah ada setan mengganggu kenikmatan yang
aku rasakan, oh no.
“Widih si cabe makan nasi, bagi be…”
goda temanku.
“Enak aja loh, beli geh jangan kayak
orang susah.” balasku.
Perkenalkan temanku ini, namanya
Renni Wihandini. Temen aku dari TK-SD-SMP-SMK (sekarang). Dia lumayan cantik
sih, tapi sayang pendek gak tumbuh tinggi malah kebawah mulu, karakteristik dia
tuh. Sewaktu kelas 7, rambutnya mirip Bob Marley Reggae Uyye tapi sekarang
rambutnya lurus, iya lah habis di smoothing,
behelan, gak mau dikatain cabe tapi mulutnya bilang ke orang cabe.
Dan dia pergi begitu saja tanpa
menimbulkan suara sedikitpun. Aku pun melanjutkan makan dengan rasa penghayatan
sangat mendalam.
Tak lama bel masuk pun berbunyi,
dengan di mulainya pelajaran Matematika yang ribetnya minta ampun, dan fokus
pada pembelajaran ini.
**
Aku langsung pergi ke kantin untuk
bayar utang nasi goreng yang aku makan tadi pagi, tak lupa juga aku berjumpa
temanku namanya Amalia Putri Annisa biasa dipanggil Amel.
“Fer, tadi malam gue jadian loh.”
suaranya sangat melengking kegirangan.
“Ama siapa loh? Kok gak cerita sih
sama gue?” tanyaku maksud.
“Curhatnya di Gazebo aja ye, biar
enak daripada berdiri agak pegel.”
Aku dan Amel langsung pergi ke
Gazebo untuk melanjutkan cerita.
“Jadian ama siapa loh?” sekarang
giliranku bicara duluan.
“Namanya Ahmad Raditya Jhosuki,
dipanggil Radit” dia makin lama kesenengan ampe botol minum remuk ama dia
saking senengnya.
“Radit? Orang mana tuh?” tanyaku
heran.
“Dia orang Jakarta.”
“Sekolah dimana emang?”
“Dia Pesantren di kakek gue Fer,”
Amel agak belibet ngomongnya langsung minum seteguk air.
“Maksud lo gimana nih, gak ngerti
gue.” aku gak ngerti yang barusan Amel katakan.
“Gini. Kakek gue punya Pesantren di
daerah Jakarta, nah ada anak santri namanya Radit. Sewaktu gue pertama kali
dateng ke Pesantren kakek gue, gue diliatin mulu sama dia. Kan gue bingung ya,
gue tanya aja ama kakek gue dan kata kakek gue, namanya Radit. Terus waktu itu
dia pernah nembak gue dan gue terima dong.”
“Jhosuki itu nama Jepang dia?” nah
ini yang aku bingung dengan nama belakangnya. Jhosuki. Nama Jepang dia, atau
dia keturunan dari orang Jepang, atau memang sengaja dia memakai nama itu biar
dikira orang Jepang.
“Jhosuki itu nama Jepang dari
bapaknya gelo, dia masih ada darah dari Jepang. Fer, dia imut tau, putih,
mulus, baik, alim pula.”
“Ah basi kalo deskripsi cowok yang
lu suka, pasti kriteria lu itu-itu aja. Dah ah, gue mau balik ke kelas, btw gue
bagi nomor hp’nya ya, ntar naik angkot bareng luh.”
“Bawel lu.”
Aku langsung masuk ke kelas, yang
kebetulan sedang ada pergantian masa jabatan Ketua kelas. Awalnya aku megang
Seksi Kebersihan, dan sekarang aku megang Seksi Kesehatan. Dan aku terima
dengan lapang dada dan ikhlas dengan pergantian masa jabatan ketua kelas.
Jam selanjutnya pelajaran Seni
Budaya, aku belajar tentang not lagu yang bikin aku agak kesulitan ketika
memasuki not lagu.
Aku duduk sebangku dengan temanku
namanya Essa Arta Perdana, dia temanku dari SD. Putih, tinggi, punya mata
panda, jago banget futsal (ya iyalah, bapaknya aja guru olahraga SD gue). Di
depanku ini juga temanku namanya Fredrik Alfredo, biasa di panggi Fredrik atau
Patrick. Orangnya genius banget kalo ngerjain Matematika.
“Sa, lo ngerti gak yang barusan Pak
Mino nerangin pelajaran tentang not.” aku bertanya dong, gak salahkan?
“Boro-boro Fer.” balasnya dengan
buru-buru.
“Jam berapa sih ini? Cepet pulang
kek.” sambung Fredrik sedari tadi mainin kacamata bacanya.
“5 menit lagi balik kok.” jawabku
pelan.
Pelajaran kali ini benar-benar gak
masuk ke otak, bayangin aja not lagu
dalam ketukan 1 per 4 atau lainnya, kan bingung. Guru aja bingung, apalagi anak
muridnya.
Tak lama bel pulang sekolah
berbunyi. Aku mengambil sapu untuk membersihkan kelas yang kotor banget, sampai
bersihin kelas pake batin alias gondok banget. Bersih kelas kali ini emang
ribet banget, soalnya kotor banget, anak-anaknya pada males buang sampah diluar
dan akhirnya mereka buang seenaknya aja di kolong meja, ogah amat keleus.
Sesudah aku bersih-bersih di kelas
bersama temanku yang juga mendapat jatah kebagian piket harian langsung pergi
keluar kelas. Aku langsung menemui Amel untuk pulang bareng dan menunggu dia
kantin, selagi menunggu si Amel yang kebetulan sedang piket, aku beli es karena
sudah haus banget.
“Ayo gece balik.” katanya.
“Bawel loh.” balasku dengan suara
kencang.
Kami berdua berjalan menuju lobby
sekolah dan menunggu angkutan umum atau angkot
yang lumayan lama. Ketika angkot yang kita tuju pun datang, naik dan duduk di
pojok.
“Lu mau gak nomor hp dia, ya sms dia
aja.” tawarnya.
“Mana?” ucapku santai.
Amel langsung membuka tas dan
mengambil ponselnya. “Nih nomornya. 0856xxxxxxxx, bebas dah sms ke dia.”
“Oke makasih ya, ntar gue tanya ye,
siapa tau dia mau jadi temen gue, hahaha…”
Tak lama kami tiba di tujuan. Aku
dan amel langsung pisah jalur arah rumah. Aku berjalan santai menuju rumah.
**
Malam hari pun tiba, kebetulan
sekarang malam minggu. Aku bisa leluasa untuk tidur sepuasnya besok. Sambil
memainkan ponsel, aku mencoba sms pacarnya si Amel-Si Radit.
Hai.
Malam. Gue Ferlam, temennya Amel. Kata Amel, lo pacarnya yang namanya Raditya? Ketikku di ponsel dengan cepat, lalu menaruh kembali ponselku di kasur.
Tak lama ponselku berbunyi dengan
kencang, aku lupa di matikan nada suaranya biar gak ganggu. Aku membuka hpku
dan ternyata dari Radit-pacarnya Amel.
Malam
juga, iya aku pacarnya amel. Salam kenal Ferlam.
Oh bener dia pacarnya si Amel, aduh jadi gak enak bales smsnya pakai
aku-kamu. batinku.
Dengan cepat aku membalas smsnya. Oh iya, kamu sekolah dimana ya?
Baru aku menaruh hpku, tak lama hpku
bergetar. Aku pesantren di Jakarta.
Berikut isi smsku dengannya. Oh pesantren.
Cerita dong awal kenal sama si Amel.
Gini.
Aku kenal sama Amel tuh waktu dia ke Pesantren, kebetulan banyak anak santri
ngeliat dia terus termasuk aku juga sih. Tapi makin lama dia nge-respon
lirikkanku, kemudian aku sama dia jadian deh.
Oh gitu,
mau tanya juga. Siapa nama lengkap lu?
Nama
aku Ahmad Raditya Jhosuki, nama kamu siapa?
Namaku
Ferlam. Kamu keturunan Jepang?
Iya,
ayahku masih ada darah dari Jepang dan ibuku dari Jawa tepatnya Magelang.
Oh
pantes, nama kamu ada nama Jepang. Oh iya, kelahiran tanggal berapa? Siapa tau
aku bisa kado’in kamu deh.
Tanggal
9 Juni 1999, udah lewat sih.
Yah
udah lewat, kalo aku tanggal 6 Juni 2000. Kita beda 1 tahun 3 hari ya.
Eh
iya ya, kalo Amel kapan ya?
Gak
tau juga, lupa. Kayaknya 11 November deh.
Bentar
lagi ya, hmmm kado apa ya.
Terserah
lu sih, gue mah yang penting makan-makannya, hehehe.
Ah
bisa aja.
Oh
iya, kamu suka SNSD gak?.
Iya.
Biasnya
siapa? Kalau aku Sooyoung.
Aku
YoonA, tapi Amel Tifanny.
Eh
udah jam 12 malam, gue ngantuk. Senin di lanjut lagi ya, kalau besok aku gak
bisa bales karena aku Paskibra di sekolah.
Jam menunjukkan pukul 12 malam, lebih baik aku tidur karena besok aku
latihan Paskibra di sekolah.
**
Hari ini adalah hari Senin. Aku
berangkat ke sekolah dengan terburu-buru karena aku takut telat dan tidak bisa
mengikuti pelajaran hari ini dimana pelajaran hari ini adalah hari kesukaanku,
dengan pelajaran santai. Sesampai di sekolah, aku datang telat 5 menit dan
langsung mengikuti upacara.
Sesudah upacara, aku memasuki kelas
dan tak lupa aku membuka hpku untuk mengecek apakah ada sms masuk atau sosmed.
Dan ternyata ada sms masuk dari Radit, lalu aku membukanya.
Kamu
Paskibra? Yaudah, sampai jumpa lagi ya.
Aku tersenyum hingga melamun sesaat,
tapi temanku Essa mengganggu lamunanku. “Pagi.” sambil menepuk bahuku.
“Pagi juga, gak usah nepuk, sakit
keleus.” seringaiku.
“PR Matematika udah belom?”
tanyanya.
“Emang ada PR?” jawabku serius.
“Enggak ada, cuman bercanda doang.
Hahaha, ketahuan pasti semalam gak belajar ya.”
“Tauan aja”
Essa tertawa bahak, seperti orang
gila. Tak lama guru Matematika masuk ke kelas dan duduk manis. “Anak-anak, PR
hari ini kumpulkan.”
Anak-anak pun pada kaget dengan
perkataan guru Matematika bahwa ada PR.
“Enggak ada bu.” jawab Clara
“Bu gak ada PR dah.” sambung Iza.
“Beneran bu gak ada PR.” timpal
Syifa.
Semakin lama, makin sambung menyambung
jawaban bahwa gak ada PR, dan gurunya pusing sendiri menghadapinya.
**
Bel pulang berbunyi, seperti biasa
aku pulang bareng sama Amel karena rumah kami satu komplek tapi beda blok. Sama
satu lagi temenku yang rumahnya satu komplek, tapi dia malah menghilang,
mungkin udah pulang duluan karena ada jadwal les.
Biasa kalau kami satu angkot, pasti
si Amel curhat tentang pacarnya yang orang Jepang.
“Fer, semalam gue mimpi nikah sama
orang Jepang. Gue make baju adat Jawa, dan Radit juga make baju adat Jawa,
apalagi pas malam pertama” sekarang Amel-lah yang mulai pembicaraan ini.
“Anjir, gue ngakak. Eh gue dateng
gak?” jawabku seneng.
“Tapi lu dateng sama istri dan
anak-anak lu, ada 2 anak lu.”
“Si Renni dateng gak? Atau lainnya?”
“Si Renni udah nikah juga, malah
anaknya udah 3. Ada si Sabil udah nikah, si Athaya bawa pacarnya, si Asyifa
bawa pacarnya.”
“Renni anaknya 3? Siapa suaminya? Si
Faqih ya? Si Sabil udah nikah juga? Si Athaya sama Asyifa bawa pacar?”
“Iya si Faqih, udah si Sabil mah, si
Athaya sama Asyifa pacarnya ganteng luh.”
“Lu mimpi lagi nikah, bukannya
pertanda kematian yak?” tanyaku serius.
“Kayaknya bukan deh, kalo make gaun
putih baru kematian. Eh gak tau deh.”
“Au ah. Kemarin gue sms ama si Radit
luh, dia suka ama SNSD. Kok dia tahu ya, lu Fans-Tifanny SNSD sih?”
“Kan gue cerita ke dia, gue juga
cerita tentang lu.”
“Terus kata dia?”
“Ya dia mau jadi temen lu lah gelo.”
Semakin lama kami berdua bicara
tentang yang aneh-aneh, tapi sedikit ngomongin pelajaran. Ya bosen sih, malah
kita berdua maen T.O.D (Truth Or Dare atau biasa disebut Jujur atau Berani).
Apalagi aku sering kena, dan lama-lama aku masuk di acara serial gossip karena
aku milih Jujur ketimbang Berani.
Tak lama kami tiba di tujuan dan
pulang.
**
Seperti biasa, aku sms-an dengan
Radit-pacar Amel. Apalagi sms tadi belum sempat aku balas. Maaf ya, tadi gue gak ada pulsa tapi sekarang udah ada pulsa kok.
Tak lama, ponselku bergetar kencang, dan aku membuka sms dari Radit.
Iya
gak apa-apa
Oh
iya, tadi amel cerita ke gue. Amel mimpi, katanya dia nikah sama orang Jepang,
terus dia make adat Jawa.
Yang
bener?
Beneran
dah, dia cerita kayak gitu. Gue aja ampe ketawa-ketawa denger dia cerita nikah
sama orang Jepang, terus dia ngomong ‘apalagi pas malam pertama Fer’ gitu, aduh
ngakak.
Hahaha,
si Amel bisaan aja.
Beneran
ngakak sumpah, si Amel yang ngomong sendiri tadi.
Ah
masih jauh ini, dia mah pikirannya udah sampai situ aja, aku aja belom mikirin
itu.
Udah
kebelet kali, hahaha…
Eh
iya Fer, udahan dulu ya aku udah ngantuk banget nih. Sorry banget, malam.
Malam
juga.
Aku pun juga ngantuk berat, terjun ke kasur dan meluk guling sampai
terlelap dengan dunia mimpi.
**
Sekarang hari Rabu, sama seperti
hari-hari sebelumnya tidak ada perubahan sedikit pun. Malah sekarang pelajaran
olahraga, aku segera mengganti pakaian dari putih biru menjadi olahraga biru.
Tak lupa juga melipat baju dan memasukkan ke dalam tas, kebetulan sekarang
pelajaran terakhir.
Lari-lari mengelilingi lapangan
sekolah dan aku capek sendiri. Dengan praktek basket dribble dan aku jagonya (asek) apaan tuh, hahaha…
Sesudah olahraga, aku dan
temanku-Essa berjalan menuju kantin untuk membeli es karena haus yang tak
terkira pengorbanan pertahanan haus. Kami berdua duduk di meja kantin yang
terbuat dari kayu dengan kursi besi (sumpah dah, kayak mau dihukum mati pake
kursi besi listrik). Entah kenapa hari ini agak sedikit emosi, mungkin faktor
pelajaran tadi atau terlalu capek atau juga pengen cepet pulang.
“Fer, lo kenapa sih daritadi agak riwet diliat-liat.” kata Essa seraya
minum es-teh dingin.
“Gak apa-apa, tumben amat lo nanyain
kayak gitu.” balasku maksud.
“Dih gelo.” ucap Essa dengan tampang
berkerut sambil menaikkan kedua alis matanya.
Daripada maksud dengan pembicaraan
yang gak jelas, mending aku buka ponsel untuk mengecek sosmed. Eh ternyata ada
sms dari Radit. Fer.
Dengan cekatan, aku membalas pesan
tersebut. Apaaan?
Ponsel aku taruh di kantong, dan segera menuju kelas buat siap-siap
pulang karena gak tahan di sekolah, panas banget.
Aku langsung menuju ke Amel untuk
pulang bareng. Saat aku samper dia, mukanya agak kusem seperti agak seperti orang tersinggung. Hmmm, mungkin dia lagi gedek ama kelas. Hati kecilku berbicara.
“Woi, napa muka lo bentek gitu?” teriakku.
“Gue kesel banget ama anak-anak,
bukannya pada beresin kelas, malah nge-glatak
aja.” jawabnya dengan emosi yang lumayan tinggi sih diliat-liat.
“Ya udah ke kantin geh, minum dingin
biar seger dah lu.”
“Eh gue mau ngomong sama lu.” dengan
gesitnya, dia meraih tanganku yang sedang megang hp untuk membalas sms dari
Radit.
Ih aku paling gak suka kalo di paksa
sama orang, rasanya tuh seperti membelah angkasa raya, melintasi khatulistiwa,
masuk ke terowongan Casablanca, naik ke Puncak Bogor dan mendarat di Halim
Perdana Kusuma.
“Kemarin lo cerita apa aja ke
Radit.” sekarang dia memulai obrolan.
“Lah emang kenapa?” aku bingung dan
hanya memasang muka gelo alias blo’on.
“Cepet!”
“Kemarin sih gue cerita, lu nikah
sama orang Jepang.”
“Nah itu. Kemarin dia ngomong ke gue
gini, ada yang mau nikah sama orang Jepang nih kayaknya. Kan maksud, pasti lu
yang ngomong ke dia, ya kan?”
“He-eh.” sambil memasang muka polos
dan imut, idih siapa yang imut?.
“Tapi gak apa-apa sih.”
GUBRAK!!!
“Kok gitu? Kirain gue, lo bakal marahin gue sampe ke akar-akar
permasalahan.” dengan heran, aku langsung minum dan meredakan urat saraf yang
udah tegang ketika di interogasi sama nih anak.
“Ngapain amat gue marahan sama lo,
gak guna.”
JLEB!
Aku hanya mengelus-elus dada yang sakitnya ampe ke batin. “Sudah ah,
balik.”
“Eh gue gak bisa bareng, gue di
jemput ama bokap.” dan dia langsung pergi meninggalkanku seorang diri di
kantin. Rasanya seperti kentut, bau (maksud).
**
Tak terasa sekarang sudah hari Sabtu
aja. Dan juga hari ini sekolah yang sangat membosankan, bayangin aja, sekolah
dengan mata pelajaran maksud hari ini (gak disebutkan, yang penting bukan
pelajaran hitung-hitungan).
Dan obrolanku dengan Radit via sms
pun tidak putus sampai sekarang, kita sering ngobrol tentang pribadi, curhat,
games, dan lain-lain hingga jam 12 malam.
Sekarang aku sedang berada di kelas
sambil membaca novel tentang pembunuhan
berantai di sekolah, tapi aku gak tau jelas siapa penulisnya, yang hanya
ada di cover dengan inisial ‘U’. Yang bikin aku seru terhadap novel yang aku
pegang ini, pembunuhnya merupakan saudara sedarah.
“Baca apa lo Fer.” tiba-tiba Essa
menepuk bahuku di sebelah kiri.
“Anjer, sakit gelo.” responku,
“Biasa aja keles.”
Essa duduk di sebelahku, dan
langsung bersandar pada dinding beton. Sumpah,
ini anak nyender mulu kayak gorengan berjejer. ucapku dalam hati.
“Oh ya Fer, gue bete tau.” katanya
sambil membenarkan rambutnya dengan jel.
“Kok lu curhat ke gue?” balasku
sewot.
“Ya udah deh, lanjutin aja baca
novelnya.”
“Nah gitu dong, ganggu gue baca aja.
Mumpung sekarang sampai pulang gak guru nih.” senyumku sambil mengganti halaman
novel.
Aku pun melanjutkan membaca novel
yang makin lama makin masuk ke dalam permasalahan dalam pembunuhan, aku aja
yang baca sampai deg-degan kadang tegang sendiri atau juga merinding sesaat.
Tiba-tiba, hpku bergetar kencang
seperti aku sedang Goyang Itik,
hahaha. Oh ternyata dari Radit. Fer?.
Aku pun langsung membalas tanpa diaba-aba sekalipun. Yes?.
Tak lama dia membalas smsku dengan cepat. Ada berita bagus nih.
Apa Dit?
Minggu
depan, aku ke Tangerang, Fer. Ajak Amel juga ya, kita ke mall aja sekalian juga
aku main sama kamu-Amel juga, kan kita belum pernah ketemu. Aku juga penasaran
sama kamu, jadi minggu depan aku akan ke Tangerang buat ketemu kamu dan Amel.
Serius?
Iya
Fer, aku juga udah kasih tau ke Amel.
Yes, akhirnya aku bisa main dengannya untuk pertama kalinya. Soalnya dia
itu susah kalau diajak main, karena dia pesantren dan tinggalnya jauh di
Jakarta. Dan aku harus bikin dia senang di main ke Tangerang.
“Kenapa lo senyum-senyum sendiri?”
tanya Essa yang melihatku senyum-senyum kesenengan.
“Temen gue yang di Jakarta, bakal
main ke Tangerang untuk pertama kalinya, dan aku juga pertama kalinya melihat
dia.” jawabku senang sambil teriak-teriak hingga diliatin teman-temanku di
sekelilingku.
“Wah, kapan tuh?”
“Minggu depan atau lebih tepatnya
tanggal 10 Oktober.”
Essa hanya membalas dengan senyuman dan
mulutnya membuntuk huruf ‘O’, bahwa dia mengerti apa yang aku maksud.
Aku tidak sabar untuk pulang sekolah
dan memberitahukan ke Amel.
**
“Amel, woi budeg.” teriakku memanggil dia.
Amel pun menghampiriku sambil
membawa tas. “Apaan? Gak usah teriak juga kali.”
“Si Radit mau ke Tangerang ya?”
tanyaku.
“Iya, kemarin dia ngasih tau gue.
Minggu depan kita ketemu sama Radit di mall deket sekolah.” jawabnya.
“Oh ok, gue seneng kalo ketemu sama
dia nanti. Dan ini pertama kalinya gue ketemu ama dia.”
“Nanti maen games ya, slow dia mah duitnya banyak.”
“Jeh, sok tau amat.”
Amel hanya membalas dengan tertawa
seneng banget. “Tau lah gue mah.”
“Iya dah yang someone-nya mah serba tahu.”
Hahaha ada-ada aja, biasalah kalau
ada yang dibicarakan suka gak jelas maksud dari pembicaraan ini. “Woi pulang
kagak.”
Aku kaget dan lamunanku buyar
sesaat. “Ayo, balik keburu siang.”
“Emang udah siang jeng.”
**
Wah sekarang udah hari Rabu aja,
cepet banget waktu ini berjalan, dan untuk ketemu temenku-Radit tinggal 3 hari
lagi. Aku belum mempersiapkan hadiah untuknya, apalagi uangku dalam keadaan sekarat banget. Tapi tak apalah, besok
aja aku membelikan hadiah untuknya.
Ketika aku di kelas, aku agak
semangat belajarnya. Ya gimana pengen gak seneng coba, ketika lo punya temen
jauh yang hanya ngobrol via sms atau sosmed lainnya dan lo ketemu pertama
kalinya. Gimana perasaan lo? Seneng kan? Gue aja seneng banget, ketika temen
gue bertemu untuk pertama kalinya.
Dan waktunya istirahat pun tiba. Aku
langsung lari ke kantin, karena cacing-cacing di perut sudah demo di lambung,
oh my god. Cacing aja bisa demo, masa kamu engga? (ngaco).
“Fer woi, gelo.” suara itu berasal
dari ujung meja kantin, dan aku berjalan menuju situ.
“Gak usah pake gelo kali.” kataku sewot.
“Fer, si Radit udah kasih tau lo
belom?” tanyanya agak sedih.
“Belom, emang ada apa?” jawabku agak
bingung.
“Radit masuk rumah sakit di
Jakarta.”
“Loh kok bisa? Emang dia sakit apa?”
tanyaku sambil mata melotot kearahnya.
“Gue gak tau pasti dia sakit apa.”
“Terus, nanti sabtu ini gimana?”
“I
Don’t Know, coba lo sms ya ntar. Gue mau ke kelas dulu.” pamitnya.
Dan Amel pun pergi jalan menuju
kelas, dan menghilang di keramaian anak-anak bagaikan dia hilang di telan bumi.
Aku masih gak percaya bahwa Radit masuk rumah sakit. Lalu aku pergi ke kelas
dan mencoba berbicara dengannya via sms. Radit?
Halo?
Jam terakhir sekarang ini, sedang gak ada guru. Tak lama, hpku bergetar.
Iya Fer?
Kata
Amel, lo masuk rumah sakit? Sakit apa emang?
Iya,
Fer aku dirawat karena aku kecapean. Insya Allahu, sabtu ini jadi, kamu doa’in
aku aja yang terbaik untukku, biar aku cepat sembuh dan bisa ketemu dengan kamu
sama Amel.
Aamiin,
mudah-mudahan kamu cepat sembuh ya.
Makasih
ya Fer, lo emang temen gue yang baik.
Eh
udah ya, kayaknya gue ganggu istirahat lo, maaf ya.
Gak
apa-apa Fer, aku juga gak mau ganggu belajar kamu.
Oke,
see you tomorrow.
See
you.
Aku agak sedih mendengar berita
bahwa Radit sakit, tapi mudah-mudahan dia cepat sembuh.
“Loh, kok lo sedih Fer?” tanya
Fredrik sedari tadi melihat gerak-gerikku.
“Betul tuh, kok lo sedih? Ada apa?”
sambung Essa
“Enggak apa-apa.” jawabku perlahan.
“Ehm, masa?” timpal Essa.
“Bawel lo.”
Aku gak sabar untuk hari esok,
karena aku ingin mengetahui keadaan Radit esok hari.
**
Ehem sekarang sudah hari Jumat aja
nih, cepet banget deh. Aku aja lupa kejadian apa saja di hari sebelumnya. Aku
mempunyai firasat aneh tapi aku menghiraukan firasatku yang lumayan sakit
banget di hati.
Aku sedang berkumpul untuk berdiskusi
kelompok tentang pengertian drama dan contohnya, tak lupa juga aku berpura-pura
untuk memerankan tokoh jahat atau antagonis.
Tapi, di depan pintu kelas ada
banyak anak-anak ramai disitu. Oh ternyata ada amel, aku berjalan ke arahnya.
“Cie Gun, ada mantan tuh.” ejek Iza
dengan mata sinis.
“Apa-apaan loh Iza, mantan biarlah.”
balas Amel seraya sedang memegang tangannya.
“Ehem, mulai dah dicampakkan.”
Aku datang dan langsung bertanya
kepada Amel, kenapa dia datang ke kelasku. “Mel, ada apa lo dateng kesini,
tumben amat, mau ketemu mantan lo?”
“Idih amit. Gue mau kasih berita
tentang Radit.”
“Apa? Oh iya dia dari semalam gak
sms gue, gue sms malah gak dibales.”
“Fer. Radit meninggal.”
APAAA?!?!!!
“Hah? Dia meninggal? Kenapa? Kok mendadak?” tanyaku kaget.
“Iya, kata mamanya. Radit kepeleset
di kamar mandi, terus jatuh hingga sumsum tulang belakangnya patah, terus otak
langsung drop akibat kena benturan.”
katanya dengan raut wajahnya sedih.
“Kapan dia meninggalnya?”
“Tadi malam Jum’at sekitar jam 8
malam.”
“Innalilahiwainnaillahiraji’un.”
sambungku.
“Sudah ya Fer, dikelas gue ada guru
soalnya. Bye.”
“Bye.”
Aku masuk ke kelas dan duduk di
tempat hingga aku tidak memegang sedikitpun buku. Air mataku menggenang di area
kelopak mata dan siap tumpah ketika aku mengedipkannya. Semakin lama, air mata
itu jatuh dengan perlahan seperti tidak percaya berita ini. Air mata ini
berjalan di area pipi, dan jatuh ke lantai.
Essa yang kebetulan berada disebelahku bertanya dengan heran. “Fer lo
kenapa? Kok tiba-tiba nangis.”
Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya karena aku tidak kuat dengan
cobaan ini, sekali aku meliriknya dengan senyuman bahwa tidak terjadi apa-apa.
“Fer, jawab dong. Gue jadi ikut sedih nih, Iza bantuin gue dong.”
“Essa, lo duduk disitu dulu biar gue tanya dulu si Ferlam.” kata Iza.
Aku terus menangis dengan kepergian Radit, aku tidak percaya. Kenapa dia
tiba-tiba meninggalkanku.
“Fer, lo kenapa?” sekarang Iza bertanya padaku.
Tetapi aku tetap tidak mau menjawab. “Tidak apa-apa kok.”
“Lo kenapa? Jawab dong, jangan di pendem terus.”
Aku memberanikan untuk menjawab pertanyaan dari Iza. “Temen gue
meninggal Za.”
Iza terlihat terdiam dan gugup apa yang barusan aku katakan. “Kenapa dia
bisa meninggal?”
“Dia terjatuh di kamar mandi rumah sakit, lalu sumsum tulang belakangnya
patah dan otaknya mengalami gangguan tapi nyawanya tidak bisa ketolong lagi.”
ucapku terisak-isak karena masih sedih.
Sungguh aku tidak kuat ditinggal pergi oleh temanku ini.
“Turut berduka ya Fer.”
“Iya makasih.” senyumku.
**
Di mall Tangerang, jam 14.00 wib.
“Mel, gue masih gak percaya kepergian Radit.” aku memulai pembicaraan
ini.
“Lo masih gak percaya Fer? Semalam sekitar jam 11 malam, mamanya telpon
gue dan dia bilang Radit udah meninggal.” jawabnya pelan, dan masih terlihat
sedih.
“Sabtu kemarin, dia bilang mau ke Tangerang sabtu besok. Tapi malam
jumat sudah pergi meninggalkan dunia ini, ya Allah, tinggal besok agar gue bisa
ketemu ama dia.”
“Iya sih Fer, padahal besok ya kita ketemu Radit untuk pertama kalinya.
Tapi Allah sudah memanggilnya, kita gak bisa melawan takdir Fer.”
Aku hanya terdiam, dan menghembuskan nafas perlahan. Ditemani minuman Lemonade Float agar bisa mengembalikan mood-ku.
“Mel, gue bisa ngerasain bahwa Radit ada di sekitar sini.” ucapku
berbisik dengan pelan.
“Gue bisa ngerasain juga kok Fer, bahwa dia ada disini.”
Aku melanjutkan minum dan bersandar di kursi untuk merenggangkan tulang
karena pegal.
**
Besoknya di hari Sabtu. Aku datang ke sekolah dalam keadaan tidak
semangat, karena masih berduka atas kepergian temanku-Radit. Ketika memasuki
kelas, suasananya langsung berubah, kelas dalam keadaan tidak nyaman tapi aku
tetap masuk dan mengikuti suhu di sekitar sini.
“Fer, masih sedih?” tanya Essa.
Aku hanya menganggukkan kepala saja dan memberikan senyuman hangat bahwa
aku masih kuat untuk menghadapi cobaan ini.
“Udah Fer, siapa tau si Amel hanya ngerjain lo doang kali.”
“Iya kali ya, hmm yaudah deh, gue gak nangis lagi tapi cuman sedih.”
“Oke.”
Tak lama ketika aku sedang belajar, ada yang mengetuk jendela kelas. Lalu
aku berdiri dan melihat bahwa Amel sedang berdiri disitu sambil membawa surat.
“Ambil, Ambil.” katanya sambil tergesa-gesa.
Aku hanya menganggukkan dan senyum, lalu duduk kembali. Kebetulan aku
duduk di pojok paling belakang, aku bisa bebas ngapain aja. Aku bingung yang
barusan amel berikan, sebuah surat putih polos, lalu aku membukanya.
Assalamualaikum wr.wb.
Hai
Ferlam, apa kabarmu? Semoga baik-baik saja ya. Oh iya ini surat pertama ku
untukmu, aku juga memberikan surat ini ke Amel. Fer, sejak awal kita ngobrol
lewat sms, aku agak sedikit canggung terhadapmu, tapi semakin lama aku sedikit
mengenalmu walau hanya lewat sms. Aku masih ingat waktu kita curhat-curhat
sampai larut malam, dan kamu bela-belain buat nemenin aku sendirian disini. Aku
juga masih ingat, ketika kamu cerita tentang Amel nikah sama orang Jepang,
sampai sekarang aku masih ingat itu Fer. Tapi sekarang, aku dalam keadaan lemah
banget dan butuh istirahat. Aku harap, walaupun aku tidak ada nanti, kamu masih
menganggap aku sahabatmu. Aku akan menunggumu di pintu surga.
10 Oktober 2013
Ahmad Raditya Jhosuki
Air mataku kembali mengalir dari
sumbernya lalu jatuh ke lantai ketika aku membaca surat terakhir dari Radit.
Selamat jalan wahai kawanku, aku akan tetap mengenangmu hingga ajal menjemput.
**
Waktu cepat berlalu, tibalah
sekarang bulan Desember.
Malam ini aku mengikuti pelantikan
Paskibra di sekolah smpku, dengan perjuangan bangun malam-malam, walau aku agak
susah kalo dibangunin jam 12 malam tapi besoknya hasilnya sangat memuaskan.
Ketika memasuki malam senin, aku
tertidur dengan terlelapnya hingga aku lupa waktu dan jam berapa sekarang.
Ketika aku sedang bermimpi, aku berada di sebuah ruangan kelas. Aku bingung
kenapa aku ada di kelas, tapi disitu ada Amel yang berjalan ke arahku.
“Fer, lo mau lihat Radit gak?”
tawarnya.
“Mana dia?” tanyaku sambil lihat
kiri-kanan tapi gak ada.
“Dia ada di belakang lo.”
Ketika aku menoleh ke belakang, aku
melihat seseorang berbaju putih dengan wajah putih terang menghampiriku. Aku
hanya terlihat senang lalu memeluknya dengan erat. “Fer, kamu….”
Tiba-tiba aku sudah dibangunin oleh
ibuku untuk bangun pagi agar tidak telat sekolah, aku terbangun dalam keadaan
deg-degan. Apa yang barusan aku mimpikan?
batinku.
**
Malamnya, ketika aku hendak
berangkat les malam, dimana aku satu les sama Amel. Tiba-tiba hpku bergetar dan
membukanya bahwa ada sms dari Amel.
Dari : Amel
Isi : Fer, sekarang kamu mau berangkat les ya. Hmm, semoga kamu bisa ya menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru les kamu. Oh iya, aku mengambil hp Amel ketika dia sedang mandi, ibunya juga lagi sedang cuci piring di dapur jadi aku ambil hp Amel untuk mengirim sms kamu. Udah ya, aku hanya ingin tahu keadaan kamu sama Amel saja, bye.
Isi : Fer, sekarang kamu mau berangkat les ya. Hmm, semoga kamu bisa ya menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru les kamu. Oh iya, aku mengambil hp Amel ketika dia sedang mandi, ibunya juga lagi sedang cuci piring di dapur jadi aku ambil hp Amel untuk mengirim sms kamu. Udah ya, aku hanya ingin tahu keadaan kamu sama Amel saja, bye.
Aku kaget isi sms ini, Radit sms
aku? Sedangkan 3 bulan yang lalu, dia sudah meninggal. Apalagi sekarang ini
malam jum’at kliwon (dalam kalender Jawa), aku langsung berangkat menuju tempat
les.
Setibanya di tempat les, aku
langsung berbicara dengan Amel.
“Mel, tadi lo sms gue ya pas
Maghrib.” tanyaku serius.
“Ah enggak.” jawabnya kaget.
“Bohong lo.”
“Demi Allah, Fer. Gue tadi Maghrib,
sms temen gue si Bintang, gue gak sms lo Fer.”
“Ini buktinya.” Aku memberikan hpku
kepada Amel sebagai bukti bahwa Maghrib tadi Amel sms aku.
“Beneran Fer, gue gak sms lo.”
“Lalu?” mendadak merinding sesaat,
dan terdengar lolongan suara anjing menggema diantara benda-benda disekitar.
**
2015
Sekarang sudah tahun 2015, sudah 2 tahun kepergian kamu Radit. Saat ini
aku sudah sukses sebagai penulis, dan aku juga masih mengingat kamu terus.
Aku sengaja membuat cerpen yang
menceritakan, awal kita berjumpa via sms 2 tahun yang lalu. Aku juga sengaja
buat cerita ini, sebagai hadiah ke kamu.
2 tahun yang lalu itu sebagai awal
pertemuan kita via sms, dulu aku juga canggung kepadamu, lalu kita cerita
curhat hingga aku mengenalmu walaupun aku belum pernah melihat fisik asli
dirimu. Kamu masih ingatkan? Ketika aku sedang istirahat dari pelantikan
Paskibra, kamu datang di mimpiku. Aku melihat kamu dengan wajah putih terang,
tapi waktu itu kamu pernah ngomong ke aku tapi aku sudah lupa apa yang kamu
katakan.
Waktu cepat berlalu, 2 tahun
kepergianmu.
Semoga kamu tenang di alam sana
wahai kawanku.
Note: Cerita ini
berdasarkan kisah nyata dari penulis.
Komentar